Aku bersyukur sekali pada malam hari ini. Penunjukanku sebagai koordinator tim among tamu dalam acara Malam Bhakti Karya SJ memberikan buah rohani bagiku. Aku berada di dalam kebersamaan yang hangat, berbeda pendapat namun semakin tajam dalam mencari solusi, dan penuh semangat dalam bekerja. Kehadiranku dalam rapat akhir tersebut menghadirkan fenomena nyata spiritualitas Ignatian yang rupanya diterjemahkan unik oleh sahabat Serikat Yesus. Mereka ini bekerja. Kulihat rapat ini dimulai tepat setelah mereka pulang dari bekerja. Malam seakan bukan halang rintang yang berarti, kerja menjadi prioritas tatapan ke depan. Aku berterima kasih karena aku hadir dalam suasana kerja yang kondusif ini.

Aku agak canggung juga awalnya. Maklumlah sahabat-sahabat SJ yang baru saja kutemui sore ini berada di golongan yang antonim dengan grass root society-ku. Barangkali aku terlampau banyak gaul dengan sahabat SJ berkelas sosial bawah sehingga rasa grogi-ku cukup menggema batinku.

Bersama dengan bidel unitku, fr. Dhimas, kami mengalami langsung betapa rahmat Allah bekerja dalam diri eksekutif-eksekutif ini. Mereka total mempersiapkan acara yang ditujukan khusus demi kelestarian Serikat Yesus, khususnya dalam bidang formasi. Kurasakan kehadiran Allah ada dalam tiap langkah dan pikiran yang mereka sumbangkan demi acara donasi tersebut. Aku sadar mereka bekerja untukku juga. Ah… aku diajak Allah untuk melihat kembali perjalanan hidupku sebagai seorang Yesuit.

Eksistensiku dalam Serikat Yesus rupanya tak lepas dari campur tangan Allah sendiri. Romo Hariyanto dalam khotbahnya menyinggung panggilan dan kesediaan Maria dalam menanggapi panggilan Allah. Ibu Nani memintaku untuk memimpin doa penutup. Sebuah permintaan yang menunjukkan nada mendesak, menuntut dan menguji juga. Kurasa ia ingin melihat kualitas formasi Serikat yang ia layani pada hari-hari ini. Dua pribadi ini menjadi bukti hadirnya Allah dalam hidupku. SentilanNya tajam namun dalam rupa yang sederhana. Itu cukup menggambarkan hidupku yang memang berasal dari kemurahan dan cinta Allah.

Sekali lagi aku merasa bersuka cita. Ia sungguh merawat dan melestarika Serikat yang menyandang nama PutraNya. Allah memperhatikan kami, putra-putraNya yang terus menerus berada dalam proses menjadi dalam on going formation sebagai Yesuit. Ia menganugerahkan kepada kami sebuah karya yang indah dan agung dalam kekeluargaan, semangat dan kerja keras dalam diri panitia Malam Bhakti Karya Serikat Yesus yang akan diselenggarakan tiga hari lagi. Terima kasih, Tuhan.

Pengalaman siang ini sungguh menarik bagiku. Kami, komunitas frater unit Johar Baru, makan siang bersama. Makanannya agak lumayan istimewa, yakni sup asparagus. Maklumlah hari minggu memang kita punya kesempatan untuk membeli makanan di luar. Mbak Padmi yang bekerja memasakkan makanan bagi kami, di hari minggu libur. Nah, hal yang istimewa adalah mengenai pembicaraan kami. Kami banyak bicara mengenai St. Fransiskus Borgias, SJ. Kami bicara mengenai siapa dia dan laar belakang hidupnya baik itu pra dan di dalam Serikat Yesus.

Aku teringat akan masa Novisiatku. Di masa bulan maduku bersama dengan Allah tersebut, aku sempat berjumpa dengan teks keserikatan yang berbunyi ”Pada saat makan hendaknya tidak hanya tubuh yang diberi makan namun juga jiwa. Saat makan hendaknya kita menjaga pembicaraan kita agar berbicara mengenai perkara-perkara rohani agar jiwa juga terpuaskan.” Ah…sudah lama aku tidak mengalami hal ini. Kira-kira terakhir ya masa indahku di Novisiat itu. Dua tahun bercengkrama dengan Allah secara eksklusif. Siang ini, kami secara tidak sadar menghadirkan pengalaman itu lagi. Syukur alhamdullilah, Rm. Magnis bergabung bersama kami dan membagikan beberapa informasi tentang Jenderal Ketiga Serikat Yesus tersebut. Menarik sekali.

Aku melihat kembali perjalanan hidupku selama di Jakarta ini. Bagaimana aku mempraktekkan apa yang sudah kuperoleh di Novisiat tersebut. Pembudayaan kebiasaan makan seimbang baik jasmani dan rohani di Jakarta tentunya menuntut cara yang adaptif dengan konteks setempat. Makan secara bersama dengan perbincangan mengenai pengalaman hidup menjadi wujud nyatanya. Makan itu rupanya juga berdoa juga. Ini bukan hanya perkara jasmani belaka namun juga perkara jiwa. Well, makan sambil berbincang-bincang itu menumbuhkan sense rohani. Apalagi jika pembicaraannya juga mengarah ke sana. Kalau mau melihat teladan Yesus, Ia pun juga memanfaatkan sarana ini untuk mewartakan Sabda Gembira. Makan yuks….

Aku punya pengalaman yang tidak enak dengan api. Sewaktu umurku tujuh tahunan kuambil sekotak korek api dan kusimpan dalam saku. Rasa ingin tahuku sebagai seorang anak kecil sedang tinggi. Aku ingin mengenal lebih jauh apa itu api. Ah…ada tempat sampah di salah satu pojok di teras rumahku. Kulihat di sana dan ku temukan plastik bungkus mie instant. Aku amat tertarik dengan lembaran tersebut. Kuambil dan kubawa ke halaman rumah. Korek ada, dan bahan yang akan dibakar ada. Kupantikkan korek api tersebut dan menyalalah api kecil di tanganku. Kusulutkan pada plastik tersebut. Wow…menarik sekali, plastik tersebut mengerut. Ia ciut. Bentuknya lucu. Kudekatkan api pada plastik dan plastik tersebut menggulung cepat. Namun tak terasa gelungan tersebut menyentuh tanganku. Panas dan perih sekali rasanya. Aku teriak dan menangis sejadi-jadinya. Kupegang tanganku erat sambil mengerang kesakitan. Api korek tersebut sudah mati namun gulungan bakar si plastik masih memercikkan tarian nakal sang api. Tak lama Ibuku datang. Agak marah ia rupanya sebab keingintahuanku yang berbahaya itu. Tapi dasar ibu, ia toh menolongku juga. Ia masuk ke rumah kemudian membawa odol. Ia mengoleskannya pada jariku yang memerah dan menggelembung itu. Tanganku melepuh. Rasa dingin pun memeluk jariku. Ah…lega rasanya.

Itu pengalamanku dengan si api. Kemarin aku punya pengalaman lain. Amat berbeda dengan pengalaman tersebut. Api yang kualami merupakan api dalam makna yang lain. Api semangat, api yang membakar jiwa dan kehendak untuk berbuat lebih. Api yang memantikkan api yang lain. Ini dia…Konggregasi Jenderal 35.

Adalah Romo Deshi, SJ prefek studiku yang membakar api dalam diriku. Sebelumnya aku redup. Gejolak dan geliat api untuk menari dalam konteks perutusanku sebagai seorang Yesuit pelajar semakin membara. Sebagai orang muda yang murah hati, aku ditantang untuk membadankan keutamaan tersebut. Tawaran Prefek studi untuk menyalakan api dan membakar dunia maya kutanggapi dengan mantap. Aku merasa terdukung. Ini memang bidangku. Gejolak kehendak ini memang membuatku berkobar-kobar. Aku jadi ingin berucap, ”Ini aku, Tuhan, utuslah aku!”

Aku masih tertidur kala kuterima secarik kertas putih itu. Kaget pula rasanya karena aku dibangunkan dengan kasar olehnya, si pengantar kertas itu. Mataku terbuka sedikit. Pikiranku masih melayang entah dimana. Kulit wajahku merespon rasa sakit yang timbul lantaran sentuhan keras bantal yang melayang berkali-kali. Aku yang sedang tertidur dengan pulasnya harus rela menarik kembali kesadaran normalku.

”Selamat ya…” begitu ucapnya. Aku masih belum menangkap arti dari ucapan penuh afeksi itu. ”Okt, bangun! Betulkan IP-mu empat!” begitu ujarnya yang berusaha menarikku dari ketidaksadaran alam tidur.

Aku masih berada di atas jembatan alam diriku yang utuh saat melihat secarik kertas tersebut. Kutatap dengan jeli setiap huruf dan tulisan yang ada di sana. Tertera disana namaku, nomor induk mahasiswaku dan waktu semester saat aku kuliah kemarin. Deret-deret angka kredit beserta nilainya sungguh membuatku lega. Akhirnya Tuhan, Kau kabulkan doaku! Aku tak banyak bicara dalam pertemuanku dengan sahabatku itu. Aku bingung mo mengucap apa. Tak ayal aku hanya bungkam ekspresi apa yang harus kulontarkan. ”Terima kasih, ya dah diambilkan KHS-nya.”

”Trus mau apa?” Begitu ujarku dalam hati. Apa lagi yang hendak kulakukan. Rasanya aku mengalami kekosongan dari sebuah prestasi ini. Memang rasa syukur itu tak luput untuk kuucapkan. Hanya saja hati kecilku berbisik demikian ”Untuk apa aku memperoleh hasil ini?” Terus terang aku seakan mentok dan linglung untuk menyikapinya. Beberapa pujian dan ucapan selamat sudah banyak sampai kepadaku. Padahal ucapan tersebut belumlah terbukti di atas kertas. Wujud penampakan belum ada namun bentuk ucapan sudah dipegang penuh keyakinan.

”Ah, Tuhan, seandainya Kamu ada di sisiku saat ini, apa yang hendak Kau lakukan padaku?” Aku yakin kamu tersenyum dan mengucapkan dua kata ajaib itu. Hehe… aku pun berharap agar kurbanku ini menjadi kurban yang harum mewangi bagiMu. Kukembalikan kembali apa yang sudah kuterima ini.

Pertanyaanku itu belum terjawab nih! Dalam batinku terdengar suara-suara yang menyerukan apa yang ada dalam injil Matius. Ayat injil yang juga menjadi senjata ampuh bagi Ignatius untuk menaklukan kebesaran hati Fransiskus Xavier akan kehebatan dirinya. ”Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”(Mat16:26). Sabda ini mengiang terus dalam lubuk hatiku. Aku mencapai puncak namun begitu tepat di puncak aku merasa justru kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Aku kehilangan daya-daya dan semangat berkobar yang dulu pernah menyala di hatiku. Api membara yang membakar diriku untuk terus menempelkan pantatku di kursi, bergulat dengan tulisan-tulisan kering bagai gunung sahara namun begitu mendapatkannya girang segirang girangnya. Tuhan, kumohon janganlah api itu padam!

Aku ingat bagaimana dulu geretan sebatang korek api memulai api yang berkobar begitu besar dalam hidup studiku. Perlahan demi perlahan kujaga api tersebut agar tetap menyala. Biarpun redup kupertahankan itu. Kutambahkan pula sedikit demi sedikit bahan bakar untuk mengobarkan api agar semakin berkobar. Mengapa aku lalai menjaga kobaran api itu? Aku merasa seperti murid-muridNya yang tak bisa menjaga kobaran api dan jatuh tertidur terbuai dengan kenikmatan.

Api yang mengobarkan api yang lain. (St. Alberto Hurtado, SJ)

Perkenalkan! Namaku Markus… Tak kukira aku akan berada di tempat ini setelah sekian lama menanti dalam perjalanan panjang. Aku berada di sebuah gapura megah yang menjunjungku ke tempat peraduanku yang terakhir. Sebuah tempat yang tak kukira sebelumnya dapat ku datangi.

Mewah, pikirku sepintas dalam benakku. Kok, saya tidak menemukan sebatang rokok pun di tempat ini. Bibirku rindu padanya. Sudah seputaran bulan rasanya tak kukecap batang manis yang menggugah rasa kejantananku. Banyak orang bicara kalau merokok itu buruk. Tapi toh, aku tetap saja membandel. Bagaimana tidak, sebatang itu telah menjadi sahabat. Andai tak ada dirinya aku sepi sendiri menghadapi dinginnya dunia padaku. Kuperoleh kehangatan dari tarikan nafas lebih dari sekadar rekan yang menantangku berucap janji setia…Tak kusadari sahabatku inilah tempatku bernaung. Nada miris nan negatif memang menudingku untuk menjauhinya. Tapi tetap aku ngeyel sebab ialah belahan jiwaku. Aku dan dirinya bagaikan sebuah kereta yang berjalan menuju segala tujuan. Aku lokonya dan ia asapnya. Ah…peduli amat apa kata dunia, sing penting aku uripku ki iso uenteng.

Panggil aku Markus, sobat, dan jangan dengan nama yang lain. Di sini aku dapat leluasa menatap kalian semua. Bahkan secuil aksimu dapat kukenali dari tempatku ini. Haha…tahu rasa kau! Aku yang dulunya hanya beradu di sebuah meja sekarang telah berada di sebuah dunia tanpa batas. Pandanganku mantap menatap cakrawala. Telingaku menangkap bunyi yang menyunyi. Suaraku menggema tak henti. Ah…aku bebas sekarang. Tak ada lagi pribadi yang mengekangku. Aku sungguh lepas. Di hadapanNya aku bertemu, Aku menemukan sebuah kepercayaan.

Sobat, jangan lupa memanggilku, Markus! Aku masih ingat hanya beberapa sobat berhati emas yang mau hadir di saatku sulit. Aku pun bertanya apakah keluarga dekatku sendiri berada di sisiku saat ku menderita. Hah, kawanku yang di surga, dengarkah permohonanku ini? Sobat hadirlah di sini, barang semenit saja. Aku butuh kehadiranmu.

Sekejap mataku dapat membuka. Walau samar, aku dapat melihat buah hatiku di sisiku. Menatapku dengan gembira. Keceriaan yang entah mengapa dihiasi oleh air mata di ceruk bola matanya. Ah…aku bersama…Lega aku rasanya…

Kawanku di surga! Sudahkah saatnya tiba?

Kutarik napas dalam-dalam…dan kuhirup perlahan hingga habis…ahhhhhhhh………………….

Kawan, panggil aku, Markus saja. Itu sudah cukup bagiku.

Biarpun aku sendiri toh akhirnya aku bersama lagi…

Ku tunggu engkau di sini

Dengan harap yang pasti

Kebahagiaan terjadi

Sebuah tulisan kenangan khayalku bagi Pak Markus…

Selamat jalan Pak…

Bahagialah engkau selalu…

Sebuah tulisan,

kukira sebuah ucap.

Kata mengalimat mengalir menembus daya budi

Menimbulkan kesan

Tak menjorok namun menohok

Kupandangi lukisan sang indah

Tanpa ujar

Tegar manatap

Ya terucap

Dua liang beradu bau

Menunjuk makna

Akan suatu tunggal

Sebelumnya indahlah

Harum mewangi sesudah

Dua bola menggelinding

Lubang mengikat ketat

Menatap dapat

Lari terjerat

Menangkap asa

Keringat pencipta

Sungguh apik

Syukur

Ucap si lunak

Bergigi liat

Mencecap namun mengucap

Syukur

itulah

Aku langkahkan kakiku setelah penat aku duduk di meja kesayanganku yang penuh dengan buku. Kurasa aku butuh sedikit sense penghiburan untuk menceriakan budiku yang sudah dipenuhi dengan pandangan-pandangan mengenai Kartini. Aku duduk di ruangan yang dingin di depan sebuah komputer yang sudah lama menjadi sahabatku di kala aku belajar, bekerja, bermain dan bereksperimen.

Cahaya sorot dari layar yang nampak cerah itu memang membuat mataku sedikit perih. Tak apalah toh tetap saja aku dapat bertahan lama di depan tabung kaca tersebut. Biarpun mata ini perih dan sempat berair dan meradang aku tetap saja asyik dengannya. Namun, ada seseorang yang menegurku. Memang di malam itu aku sedang pamer. Aku membanggakan diriku dengan beberapa program-program yang kuunduh dari dunia maya. ”Hati-hati, Ta!” Hanya itu ucap sahabatku. Ucapan singkat yang membuatku tersadar dari euforia yang baru saja kulakukan. Kemeriahan akan suasana prestasi yang ternyata membuat mata dan budiku menjadi kabur. Semua menjadi semu. Dalam benakku yang terdapat adalah kata ”coba, coba dan coba.” Sebuah proyek trial and error yang selama ini kuusung ternyata tercium kebusukannya. Hatiku tercekat saat ia meneruskan perkataannya. Tubuhku bahkan merasa dingin dan senyum yang muncul dalam wajahku terekspresikan secara aneh. Untung ia tidak melihat wajahku yang dengan polosnya menunjukkan perasaan bersalah. Rasa yang membuat diriku remuk seakan jatuh dari jurang. Memang apa yang kurasakan berkat ulahku yang melayang tinggi ke awan sehingga aku jatuh hingga kerasnya menumbuk permukaan tanah.

Aku toh merasa dua kata indah nan ajaib itu wajib kuutarakan. Kata yang membuat berjuta-juta orang sadar akan kebaikan, perhatian dan niat baik. Seandainya saja aku tidak disapanya, aku mungkin sudah terbang ke langit ke tujuh. Melayang terbang dengan begitu banyak beban yang tanpa kusadari dapat menjadi potensi untuk membuatku meluncur bebas di ketinggian yang lebih tinggi lagi. ”Terima kasih, ya dah diingetin.” Itu ucapan tulusku padanya.

***

Keberadaan orang lain di sisiku ternyata semakin meningkatkan potensialitas yang ada dalam diriku dan dirinya. Spontan memang ada rasa cemas akan kehadiran dirinya. Dia yang ada disampingku seolah mengancamku dan ingin menjerumuskanku ke dalam jurang yang paling dalam. Kehadirannya dengan tatapannya yang tajam menusuk kalbu mengusik keberadaan diriku yang rasanya sudah mapan ini. Rasanya. Tapi, mengapa aku merasa diajak untuk semakin menidakkan diriku itu? Dia itu mengacungkan telunjuknya padaku dan berkata mengenai diriku. Ah, tidak! Aku bukan seperti yang kau maksud. Aku seperti ini!. Tetap saja telunjuk itu mengacung. Bahkan dia-dia yang lain turut serta menudingkan telunjuk bahkan beserta dengan pandangan yang menohok jiwa dan budi ini. Aku berontak! Kucoba melarikan diri dari kebersamaan dengan mereka. Kulontarkan ucapan yang barangkali sedap didengar oleh kaum Lucifer di neraka sana. Kutudingkan kembali telunjuk pada dia-dia itu. Tak hanya satu telunjuk bahkan kedua telunjukku terarah kepada mereka yang telah lebih dahulu menudingku. Aaaaarrrrgggghhh!

Kulari, lari dan terus berlari….

Sampai akhirnya aku bertemu dengan sebuah cermin. Pantulannya menampilkan wajah diriku yang menampilkan persona yang khas. Kulihat bayangan diriku tersebut. Kutangkap perbedaan yang ada antara aku dengan dia-dia yang baru saja kutinggalkan di sana. Aku berbeda. Aku unik. Aku ini ya aku! Aku bukan kamu yang memaksaku untuk menjadi kamu!

Bayangan itu selalu mengikuti apa yang kulakukan. Sama persis. Ah aku bosan dengan dirinya yang hanya dengan kebisuan seribu kata menjadi sosok peniru. Muncul rasa rindu dalam diriku ini. Sebuah kerinduan untuk mendapatkan energi-energi kasih dari orang lain.

Apakah aku salah bersikap? Aku lari dari mereka yang tanpa mereka sadari ingin mengindividuasi diriku lagi. Sebuah daya cinta dan kebaikan yang terbungkus rapi dengan sebuah panah api. Panas terasa namun api itu membakar diri, menghanguskan diriku yang lama. Aku yang hancur itu menjadi sebuah bentuk yang siap sedia untuk dibentuk kembali. Aku kembali berpikir, ”untuk apa aku lari jika aku semakin diperkaya dengan kebersamaan itu?”

Sepak bola

 

Ada bola baru di Johar Baru. Warnanya orange cerah. Biarpun masih baru namun sudah nampak noda-noda di permukaan panel-panelnya. Ya…. itu tanda kalau bola itu sudah bergulir dari kaki ke kaki menuju gawang tempatnya berlabuh. Ah… tergoda aku untuk memainkannya.

 

Aku bermain seorang diri. Tiada teman yang menemani. Aku memang ingin bermain sendiri. Bahkan aku lebih senang untuk menimang-nimang bola, menjaganya agar tidak menyentuh rumput di lapangan. Aku memang tidak bermain di lapangan. Tempat mainku sekarang justru ada di dalam rumah. Beruntung rumahku cukup besar. Ada koridor di dalamnya dimana aku dapat mengajak si orange itu berkeliling. Takut juga rasanya, barangkali aku mengganggu rekanku yang sedang asyik dengan kesibukannya.

 

Kudengar suara keceriaan anak kecil di halaman rumahku. Kemudian kuajak lari si kulit bundar menuju balkon dimana aku dapat melihat sumber suara yang menarik perhatianku. Ada tiga anak lelaki disana. Mereka berkumpul bersama entah apa yang mereka bicarakan. Ada sepeda kecil yang tergeletak tidak pada tempatnya. Khas sekali gaya anak kecil lelaki. Celotehan mereka makin keras saja terdengar. Kulihat nampak wajah yang penuh dengan kepolosan dan jiwa bermain yang tinggi.

 

Hatiku spontan merangsang masa laluku untuk menyeruak di dalam benakku. Aku masih ingat kala ku kecil. Aku bersama dengan dua teman kecilku di waktu-waktu seperti ini sedang menghabiskan sore yang indah bersama di lapangan. Apalagi kalau bukan sepak bola yang kami lakukan. Itulah wadah kami meluapkan jiwa kanak-kanak kami. Aku masih ingat sewaktu itu yang ada dalam diriku adalah main, main dan main. Tak ada budi yang bergerak dan mengatakan aku harus begini atau begitu. Aku berlari, aku menahan, menggiring dan menendang bola seturut keinginan hatiku. Tak ada pikiran melintas akan jendela kaca yang ada di pinggir lapangan, mobil yang diparkir tak jauh dari tempat kami berpeluh dan berdebu. Ya… asyik aja!

 

Bola orange yang sedikit kusam itu mulai mengajakku kembali beranjak dari lamunan masa kecilku itu. Ada rasa dalam hatiku yang ingin mengatakan sesuatu pada budi dan kehendakku. Rasa ingin bermain, mengajak anak-anak tersebut bermain bersama. Sayang rasanya jika halaman rumahku yang luas itu menganggur begitu saja. Sudah lama halaman itu terabaikan begitu saja. Hanya mobil dan tanaman yang menggunakan jasanya disana. Rasanya baik kalau aku ajak anak-anak tersebut bermain bola bersama. Setidaknya kami bersama mendapat wadah dari jiwa bermain kami yang kurasa masih meluap-luap tersebut. Hmm…tersenyum diriku melihat ideku sendiri yang entah apakah aku dapat mewujudkannya. Aku masih sadar kalau diriku ini sudah banyak menenggelamkan jiwa kekanakanku, jiwa bermainku dengan sebuah rasionalitas dan responsibilitas akan hidupku ini.

 

”Main… main…”

Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagiku. Aku bersama dengan Wanto mengunjungi salah satu karya sosial yang diasuh oleh salah satu rekan yesuit. Muara Angke, itulah tempatnya. Kami berjalan kira-kira satu jam lebih dengan menggunakan vespa. Andai kami menggunakan sarana transportasi umum, setidaknya aku tidak akan sampai kelelahan seperti saat menuliskan ini. Kepalaku sampai pusing-pusing sepulang perjalanan panjang, pulang pergi Johar Baru – Muara Angke.

Apa yang kami lakukan disana? Menemani (baca dalam Ing: Accompany). Anak-anak seusia lima tahunan yang terbagi di dalam dua kelas, dan empat pendampingnya kutemui dan kutemani. Hmm….tunggu dulu, aku sendiri jadi ragu. Siapa yang menemani siapa? Siapakah subyek dan obyeknya? Hm…bisa jadi keduanya ada dalam tingkat yang setara (bdk. Martin Buber dalam Between Man and Man). Keduanya saling menemani.

Di ruangan yang berdimensi 5 x 5 meter luasnya itu, kami saling bergembira bersama. Mereka bersekolah namun dimensi keceriaan polos milik anak-anak tetap menjadi ciri khas cara bertindak mereka.

Anak-anak itu, Neneng, Putra, Wahyudi, Solihin, Nobita, dan lain-lain, menampilkan wajah yang baru bagiku. Kehadiran mereka dihadapanku pagi hingga siang tadi menjadi inspirasi bermakna bagi diriku. Kiranya hal yang dulu pernah kurenungkan kala Novisiat menjadi diteguhkan kembali (ingat pengalaman merasul di stasi-stasi Paroki Girisonta, terlebih pengalaman dengan Nia di Sekuro).

Akhirnya aku bertanya pada diriku ini: Apakah ketertarikan bidang kerasulanku adalah karya sosial? Kurasa pertanyaan ini masih terus jungkir balik di dalam otak, dan hatiku. Aku saat ini memang masih dalam tahap observasi, melihat-lihat hal-hal yang kiranya cocok untuk kegiatan ad extra-ku di semester depan. Diriku pun sesungguhnya masih membuka diri untuk melihat bidang karya yang lain semacam, pendidikan dan paroki. Aku masih butuh waktu untuk memilih. Berdiskresi dalam hal ad extra memang membutuhkan kebebasanku secara eksistensiil. Aku punya kemampuan untuk mengobservasi hal-hal yang sejauh mungkin dapat kupilih. Well, rasanya anak-anak di Muara Angke sudah mulai masuk dalam kriteria pilihanku.

Aku memiliki seorang teman. Ia kukenal saat aku menginjakkan kakiku di almamaterku saat ini, STF Driyarkara. Setelah cukup lama berkenalan dengannya, aku semakin paham siapakah dirinya itu. Ia rapuh. Sedikit sekali aku melihat ada kekuatan dan semangat dalam dirinya untuk hidup dengan penuh makna. Ia negative thinking dengan dirinya sendiri. Aku sama sekali tidak melihat adanya diri ideal yang dimilikinya. Bahkan diri realnya saja selalu dikondisikannya secara negatif. Aku bingung bagaimana caranya untuk menjadi seorang sahabat yang baik bagi dirinya.

Siang ini aku melakukan tindakan yang barangkali cukup revolusioner. Aku meninggalkannya sendiri. Barangkali dengan meninggalkannya seorang diri, ia semakin mampu memahami kebebasan memilih. ”Kamu sekarang mau apa?” begitu kataku padanya yang siang itu tidak memiliki tujuan jelas mengikutiku pulang ke Johar Baru. ”Yo wislah, aku mbali wae” katanya dengan menghela napas panjang. ”Oke!” aku lalu meneruskan perjalanan pulang, meninggalkannya sendiri tanpa menoleh ke belakang.

Sebelum kejadian tersebut, ia memang sudah menyatakan ia ingin bernostalgia denganku. Aku yang sudah menjarakkan persahabatan ini. Barangkali aku melakukan dari perspektif subyektif diriku yang menolak kehadirannya. Bisa jadi sih, namun ada misi yang ingin kusampaikan padanya siang itu. Kebebasan untuk memilih. Kiranya itu misiku pada dirinya. ”rasanya aku ki mengkondisikan diriku untuk tidak bebas memilih.” demikian katanya padaku dengan wajah yang berat menerima vonis seperti itu. Hm….tak lama setelah hal itu terucap dari mulutnya, kucoba terapkan apa itu namanya bebas dan konsekuensinya. Aku pulang saja. Itulah kalimat pernyataan yang kutangkap sebagai tujuannya siang itu. Aku tak mengoreksi ucapanku. Aku hanya terus berjalan. Ia yang barangkali terpukul dengan apa yang kulakukan rasanya akan merasa remuk hatinya. Ia yang sudah sendiri kini ditinggalkan oleh seseorang yang baginya menjadi tempat untuk bersandar. Hmmm….

Itu kisah revolusiku yang pertama… Ini yang kedua…

Ignatius Loyola, pendiri serikat Yesus, seorang pembaharu gereja dari dalam. Di dalam kondisi gereja yang sedang bobrok-bobroknya itu, ia tidak meninggalkan gereja. Ia juga tidak mencekam gereja dengan berbagai macam tuduhan tindak penyelewengan. Ia memilih untuk memperbaiki gereja dari dalam.

Dalam beberapa hari belakangan ini, aku berada di dalam sebuah kelompok musik yang bagiku tidak sehat sebagai sebuah kelompok. Apalagi sebagai sebuah komunitas. Ada ambisi seseorang yang terlalu dominan di dalamnya. Ada juga unsur keterpaksaan di dalamnya. Rasa fun dan enjoy dalam bermusik menjadi pudar. Daya-daya magis bermusik lenyap oleh suasana kelompok yang menurut saya kurang sehat.

Seorang temanku yang memiliki bakat menyanyi yang besar merasakan hal yang sama. ”Terlalu arogan dan tidak dipersiapkan dengan matang” kesannya selama berada di dalam kelompok tersebut. Kemudian ia memasang aksi menolak secara frontal. Ia mengkritik dan melakukan aksi penolakan.

Lain halnya dengan rekanku yang lain, ia menanggapi kondisi kelompok tersebut sebagai sebuah wadah baginya untuk memperbaikinya. ”Bagaimana kelompok musik ini bisa merasa saling memiliki kalau anggotanya saja tidak memiliki sense of community?”. Rekanku yang pandai bermain musik ini sudah menyiapkan beberapa ide untuk membangun kelompok ini menjadi sebuah komunitas. Sebuah tempat dimana rasa persaudaraan, rasa kebersamaan, saling memiliki dan saling menjaga dan meneguhkan ada di dalamnya. Pandangan rekanku ini berbeda dengan temanku sebelumnya.

Dari pengalaman ini, aku bertanya bagaimana tindak revolusi itu. Perubahan macam apa yang dapat dilakukan. Secara spontan aku bahkan ingin melakukan aksi yang lebih radikal lagi dengan keluar dari kelompok tersebut. Namun apakah ini cara bertindak yang tepat bagi seorang yesuit? Kiranya banyak cara untuk melakukan revolusi dan sepertinya pendiri dan seniorku diatas dapat menjadi contoh dan pegangan bagiku untuk bertindak.

Next Page »