Aku memiliki seorang teman. Ia kukenal saat aku menginjakkan kakiku di almamaterku saat ini, STF Driyarkara. Setelah cukup lama berkenalan dengannya, aku semakin paham siapakah dirinya itu. Ia rapuh. Sedikit sekali aku melihat ada kekuatan dan semangat dalam dirinya untuk hidup dengan penuh makna. Ia negative thinking dengan dirinya sendiri. Aku sama sekali tidak melihat adanya diri ideal yang dimilikinya. Bahkan diri realnya saja selalu dikondisikannya secara negatif. Aku bingung bagaimana caranya untuk menjadi seorang sahabat yang baik bagi dirinya.

Siang ini aku melakukan tindakan yang barangkali cukup revolusioner. Aku meninggalkannya sendiri. Barangkali dengan meninggalkannya seorang diri, ia semakin mampu memahami kebebasan memilih. ”Kamu sekarang mau apa?” begitu kataku padanya yang siang itu tidak memiliki tujuan jelas mengikutiku pulang ke Johar Baru. ”Yo wislah, aku mbali wae” katanya dengan menghela napas panjang. ”Oke!” aku lalu meneruskan perjalanan pulang, meninggalkannya sendiri tanpa menoleh ke belakang.

Sebelum kejadian tersebut, ia memang sudah menyatakan ia ingin bernostalgia denganku. Aku yang sudah menjarakkan persahabatan ini. Barangkali aku melakukan dari perspektif subyektif diriku yang menolak kehadirannya. Bisa jadi sih, namun ada misi yang ingin kusampaikan padanya siang itu. Kebebasan untuk memilih. Kiranya itu misiku pada dirinya. ”rasanya aku ki mengkondisikan diriku untuk tidak bebas memilih.” demikian katanya padaku dengan wajah yang berat menerima vonis seperti itu. Hm….tak lama setelah hal itu terucap dari mulutnya, kucoba terapkan apa itu namanya bebas dan konsekuensinya. Aku pulang saja. Itulah kalimat pernyataan yang kutangkap sebagai tujuannya siang itu. Aku tak mengoreksi ucapanku. Aku hanya terus berjalan. Ia yang barangkali terpukul dengan apa yang kulakukan rasanya akan merasa remuk hatinya. Ia yang sudah sendiri kini ditinggalkan oleh seseorang yang baginya menjadi tempat untuk bersandar. Hmmm….

Itu kisah revolusiku yang pertama… Ini yang kedua…

Ignatius Loyola, pendiri serikat Yesus, seorang pembaharu gereja dari dalam. Di dalam kondisi gereja yang sedang bobrok-bobroknya itu, ia tidak meninggalkan gereja. Ia juga tidak mencekam gereja dengan berbagai macam tuduhan tindak penyelewengan. Ia memilih untuk memperbaiki gereja dari dalam.

Dalam beberapa hari belakangan ini, aku berada di dalam sebuah kelompok musik yang bagiku tidak sehat sebagai sebuah kelompok. Apalagi sebagai sebuah komunitas. Ada ambisi seseorang yang terlalu dominan di dalamnya. Ada juga unsur keterpaksaan di dalamnya. Rasa fun dan enjoy dalam bermusik menjadi pudar. Daya-daya magis bermusik lenyap oleh suasana kelompok yang menurut saya kurang sehat.

Seorang temanku yang memiliki bakat menyanyi yang besar merasakan hal yang sama. ”Terlalu arogan dan tidak dipersiapkan dengan matang” kesannya selama berada di dalam kelompok tersebut. Kemudian ia memasang aksi menolak secara frontal. Ia mengkritik dan melakukan aksi penolakan.

Lain halnya dengan rekanku yang lain, ia menanggapi kondisi kelompok tersebut sebagai sebuah wadah baginya untuk memperbaikinya. ”Bagaimana kelompok musik ini bisa merasa saling memiliki kalau anggotanya saja tidak memiliki sense of community?”. Rekanku yang pandai bermain musik ini sudah menyiapkan beberapa ide untuk membangun kelompok ini menjadi sebuah komunitas. Sebuah tempat dimana rasa persaudaraan, rasa kebersamaan, saling memiliki dan saling menjaga dan meneguhkan ada di dalamnya. Pandangan rekanku ini berbeda dengan temanku sebelumnya.

Dari pengalaman ini, aku bertanya bagaimana tindak revolusi itu. Perubahan macam apa yang dapat dilakukan. Secara spontan aku bahkan ingin melakukan aksi yang lebih radikal lagi dengan keluar dari kelompok tersebut. Namun apakah ini cara bertindak yang tepat bagi seorang yesuit? Kiranya banyak cara untuk melakukan revolusi dan sepertinya pendiri dan seniorku diatas dapat menjadi contoh dan pegangan bagiku untuk bertindak.