Aku masih tertidur kala kuterima secarik kertas putih itu. Kaget pula rasanya karena aku dibangunkan dengan kasar olehnya, si pengantar kertas itu. Mataku terbuka sedikit. Pikiranku masih melayang entah dimana. Kulit wajahku merespon rasa sakit yang timbul lantaran sentuhan keras bantal yang melayang berkali-kali. Aku yang sedang tertidur dengan pulasnya harus rela menarik kembali kesadaran normalku.

”Selamat ya…” begitu ucapnya. Aku masih belum menangkap arti dari ucapan penuh afeksi itu. ”Okt, bangun! Betulkan IP-mu empat!” begitu ujarnya yang berusaha menarikku dari ketidaksadaran alam tidur.

Aku masih berada di atas jembatan alam diriku yang utuh saat melihat secarik kertas tersebut. Kutatap dengan jeli setiap huruf dan tulisan yang ada di sana. Tertera disana namaku, nomor induk mahasiswaku dan waktu semester saat aku kuliah kemarin. Deret-deret angka kredit beserta nilainya sungguh membuatku lega. Akhirnya Tuhan, Kau kabulkan doaku! Aku tak banyak bicara dalam pertemuanku dengan sahabatku itu. Aku bingung mo mengucap apa. Tak ayal aku hanya bungkam ekspresi apa yang harus kulontarkan. ”Terima kasih, ya dah diambilkan KHS-nya.”

”Trus mau apa?” Begitu ujarku dalam hati. Apa lagi yang hendak kulakukan. Rasanya aku mengalami kekosongan dari sebuah prestasi ini. Memang rasa syukur itu tak luput untuk kuucapkan. Hanya saja hati kecilku berbisik demikian ”Untuk apa aku memperoleh hasil ini?” Terus terang aku seakan mentok dan linglung untuk menyikapinya. Beberapa pujian dan ucapan selamat sudah banyak sampai kepadaku. Padahal ucapan tersebut belumlah terbukti di atas kertas. Wujud penampakan belum ada namun bentuk ucapan sudah dipegang penuh keyakinan.

”Ah, Tuhan, seandainya Kamu ada di sisiku saat ini, apa yang hendak Kau lakukan padaku?” Aku yakin kamu tersenyum dan mengucapkan dua kata ajaib itu. Hehe… aku pun berharap agar kurbanku ini menjadi kurban yang harum mewangi bagiMu. Kukembalikan kembali apa yang sudah kuterima ini.

Pertanyaanku itu belum terjawab nih! Dalam batinku terdengar suara-suara yang menyerukan apa yang ada dalam injil Matius. Ayat injil yang juga menjadi senjata ampuh bagi Ignatius untuk menaklukan kebesaran hati Fransiskus Xavier akan kehebatan dirinya. ”Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”(Mat16:26). Sabda ini mengiang terus dalam lubuk hatiku. Aku mencapai puncak namun begitu tepat di puncak aku merasa justru kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Aku kehilangan daya-daya dan semangat berkobar yang dulu pernah menyala di hatiku. Api membara yang membakar diriku untuk terus menempelkan pantatku di kursi, bergulat dengan tulisan-tulisan kering bagai gunung sahara namun begitu mendapatkannya girang segirang girangnya. Tuhan, kumohon janganlah api itu padam!

Aku ingat bagaimana dulu geretan sebatang korek api memulai api yang berkobar begitu besar dalam hidup studiku. Perlahan demi perlahan kujaga api tersebut agar tetap menyala. Biarpun redup kupertahankan itu. Kutambahkan pula sedikit demi sedikit bahan bakar untuk mengobarkan api agar semakin berkobar. Mengapa aku lalai menjaga kobaran api itu? Aku merasa seperti murid-muridNya yang tak bisa menjaga kobaran api dan jatuh tertidur terbuai dengan kenikmatan.

Api yang mengobarkan api yang lain. (St. Alberto Hurtado, SJ)